HAPPY ANNIVERSARY


Vicky Amin


Seorang travel writer pemula dengan gaya traveling yang serba lokal dan irit,sehingga muncul sebuah alter ego bernama....


TIMELINE


Anhar Crow | posted update  
  • Sepi amat ya??? rumah pak amat padahal rame.... cz lagi hajatan...wkwkwkkkk

Share    

Cancel
Show Comment ( 3 )  

Fetri Tjang commented
  • Yang posting banyak kok pak.. Heheheh


Cancel



Anhar Crow commented
  • Fetri Tjang Iya,,,, cuma iseng doank cz ga tau mau ngapain...wkwkwkkk


Cancel



Yustian Prawira commented
  • wkwkwkw , lagi pada nungguin hujan reda kali jadi sepi


Cancel


Edgar Prima | posted update  
  • Bagi yang punya bisnis online atau yang berencana buka bisnis online, silakan gabung ke acara ini, syaratnya gampang, cuma bawa buku 69 Revolution karya mas Indra Permana.

    Acara ini akan diselenggarakan di Gedung Kompas Gramedia Palmerah Barat Lantai 7 Ruby Ballroom, namun seat terbatas.

    Semua hal yang dilakukan mas Indra Permana sebagai Internet Marketer ketika mendapatkan omzet 10 Juta Pertamanya akan dikupas habis disini.

    Salam Superb.

    ^^

Share    

Cancel
Hendra Wijaya | posted update  
  • RIWAYAT LI BAI
    Zhi Yao Gong Fu Shen, Tie Cu Mo Cheng Zhen
    Ditulis oleh: Hendra Wijaya, 31 Mei 2009.

    Zhi Yao Gong Fu Shen, Tie Cu Mo Cheng Zhen (dibaca Zhe Yao Kung Fu Sen, Diek Ju Mok Jen Cen) adalah pribahasa yang pernah dipelajari di bangku sekolah, artinya kalau kita bertekad dan tekun melakukan suatu pekerjaan secara terus menerus, batang besipun bisa diasah menjadi jarum sulam.

    Konon pada jaman dinasty Tang (dibaca Dang) di Tiongkok, ada seorang bernama Li Bai (dibaca Lie Pai), waktu masih kecil dia senang bermain. Suatu hari disaat pergi bermain, dia melewati salah satu rumah di desa tempat tinggalnya, melihat ada seorang nenek tua yang sedang mengasah sebatang besi diatas batu. Dia terheran-heran dan bertanya dalam hati, untuk apa si nenek tua ini mengasah batang besi?

    Karena merasa aneh, dia bertanya kepada si nenek tua. Nek, untuk apa nenek mengasah sebatang besi?

    Saya mengasah batang besi ini untuk dijadikan jarum sulam, jawab si nenek tadi.
    Oh,…… Untuk dijadikan jarum sulam? Nek, kapan bisa jadinya? Tanya Li Bai terheran-heran.

    Ya, saya akan mengasah batang besi ini jadi jarum sulam, mengenai kapan jadinya saya belum tahu, yang jelas kalau hari ini belum jadi, besok saya akan lanjut mengasahnya, besok belum jadi hari berikutnya saya akan mengasahnya lagi, sampai suatu hari batang besi ini pasti akan jadi jarum sulam. Jawab si nenek tua dengan nada yang mantap dan penuh percaya diri.

    Setelah mendengar jawaban si nenek tua, Li Bai meninggalkan si nenek tua dan terus memikirkan peristiwa yang dilihat dan jawaban dari si nenek tua tadi.

    Akhirnya apa yang dikatakan oleh si nenek tua tersebut membuka pikirannya, dia jadi mengerti akan suatu makna yang sangat mendalam terkandung didalamnya.

    Dia berpendapat, kalau kita bertekad melakukan suatu pekerjaan, benar-benar teliti dalam pekerjaan itu, mau berpikir, terus berpikir dan terus dikerjakan, walaupun pekerjaan itu sangat sulit, niscaya pada suatu hari kita akan berhasil.

    Dengan mengerti akan makna tersebut, sifat suka bermainnya berubah menjadi suka belajar dan membaca.

    Setelah dewasa dia menjadi seorang penyair yang sangat tekenal dan paling terkenal di jaman dinasti Tang pada saat itu. Hasil karyanya berupa syair-syair, masih dikenang hingga jaman modern saat ini.

    Saudara pembaca dan pendengar yang budiman, cerita di atas mengisyaratkan suatu hal sbb:

    Jika suatu hal dikerjakan atau dipelajari secara terus-menerus, suatu saat kita akan mengetahui dan benar-benar mengerti makna sebenarnya dari hal yang dikerjakan atau yang dipelajari, dalam istilah bahasa Tionghoa dikatakan: xue zhong xue, wu chu zhen di (li) [dibaca xie cong xie, wu ju cen ti (li)] yang artinya belajar terus belajar, mengerti makna sebenarnya dari apa yang dipelajarinya itu.

    Demikian juga dengan hal yang dikerjakan secara terus-menerus, maka akan mendapatkan kwalitas kerja yang lebih baik dan hasil kerja yang maksimal.


    Mutiara Kata:
    Belajar terus belajar,
    akan mengerti makna sebenarnya
    dari hal yang dipelajari.

    Bekerja terus bekerja,
    akan mendapatkan hasil
    yang berkwalitas
    dan maksimal.

    Post: 9 Pebruari 2016.

Share    

Cancel
Show Comment ( 1 )  

Anhar Crow commented
  • I like This

    Mutiara Kata:
    Belajar terus belajar,
    akan mengerti makna sebenarnya
    dari hal yang dipelajari.

    Bekerja terus bekerja,
    akan mendapatkan hasil
    yang berkwalitas
    dan maksimal.


Cancel


Nur Said Rahmatullah | posted update  
  • Selamat pagi semua.... Hayo siapa yg suka nolak bawa bekal makan dari ibu? Hehe piss...

Share    

Cancel
Show Comment ( 3 )  

Armi A. commented
  • Selalu makan donk :)


Cancel



Edgar Prima commented
  • Common but always Nice..


Cancel



Rizan Indra commented
  • setiap sekolah bawa kok hehe


Cancel


Elex Media Komputindo | posted update  
  • QUIZ WINNER DAY 23



    Selamat untuk Yustian Prawira terpilih menjadi pemenang Quiz HUT 31 Day 23

    Akan kami konfirmasikan lewat email :)

    Untuk yang lain jangan berkecil hati ya, kita masih ada Quiz Day 24 di www.elexmedia.id/quiz

Share    

Cancel
Show Comment ( 6 )  

Ivan Toranto commented
  • Selamat ya


Cancel



Armi A. commented
  • Selamat :)


Cancel



Fetri Tjang commented
  • Selamat ya... :) pertanyaan hari ini sesuatu ya.. Heheheh


Cancel



Yustian Prawira commented
  • wah menang :3 , Makasih Banyak Nih Elex sama adminya xD


Cancel



Sukma Jaya commented
  • Selamat buat yg menaaang >.<

    Aih, apa2an kuwis hari ini... Aq ampe edit komen ini 2x heehe.


Cancel



Rizan Indra commented

Cancel


Sukma Jaya | posted update  
  • K-ON! Vol.4 (segel)
    Yang katanya rare item :v

Share    

Cancel
Show Comment ( 7 )  

Sukma Jaya commented
  • Untuk volume yang lain sdang aq usahain, y kak Fetri Tjang >.<


Cancel



Fetri Tjang commented
  • Iya.. Sayang kalo cuma satu... Hehheh.. Mkasih ya.. Pengen semua ;)


Cancel



Fetri Tjang commented
  • Penasaran juga kamu dapet dari mana.. Hahahah


Cancel



Yustian Prawira commented
  • weh masih rapih aja itu xD


Cancel



Sukma Jaya commented
  • Fetri Tjang : haaha, dapat dr berburu ini kak wkwk
    Sbebarny yg vol.4 stoknya cukup bnyak kok. Di aq nya ready 2 buku heehe

    @yustian : haaha, iy donk, musti rapi. Namanya aj masih segel.


Cancel



Yustian Prawira commented
  • Masih Ada lebel special Pricenya ituloh xD


Cancel



Rizan Indra commented
  • njay rare item haha


Cancel


Riani Suhandi | posted update  
  • Surat Cinta Untuk Kamu yang Mematahkan Hatiku Tanpa Ragu


    Pagi itu pertamakali aku melihat kamu yang berjalan dengan tertunduk sementara tangan sibuk bermain ponsel. Aku yang tak pernah merencanakan untuk menjatuhkan hati pada kamu mendadak merasakan kalau dunia di sekeliling luntur seperti cat basa tersiram hujan, dan hanya menyisakan satu garis lurus panjang yang menjadi tempatmu berjalan. Saat itu, aku percaya kalau Tuhan menciptakan kamu untuk beribu alasan, salah satunya adalah menjadi penggenap hatiku.
    Perasaan ini seperti kecambah, cepat sekali tumbuh, bahkan aku ketakutan sendiri ketika menyadari kalau kamu diam-diam sudah menjadi alasanku untuk tersenyum memulai hari. Namun, sejatinya selalu akan ada seseorang yang diam-diam menyukai, bukan? Dan salah seorang itu adalah aku yang hanya bisa menatapmu lekat-lekat dari kejauhan, merekem struktur wajah tegasmu termasuk bulu-bulu halus di wajah kamu yang menurutku luar biasa seksi untuk kusimpan dalam memori yang bisa kuputar ulang kapan saja.
    Tapi, Tuhan telah menulis skenario perkenalan aku dan kamu, karena sore itu untuk pertamakalinya kita berdua berjabat tangan, disaksikan teman-temanku yang tak menginginkan aku tak hanya menjadi pecundang dengan memujamu diam-diam. Lantas, kamu berhasil, berhasil membuatku untuk pertama kalinya melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan untuk kulakukan pada laki-laki lain, nge-chat kamu, dan berbasa basi busuk yang malah membuatku mengetahui kalau kamu tak sedingin apa kata mereka, juga tak sedingin yang kulihat selama ini. Dan, kamu tahu? Malam itu mataku tak bisa terpejam karena jantungku terus berdebar-debar walau hanya rentetan pesan dengan namamu sebagai pengirimnya yang kubaca.
    Aku seolah berada di atas awan, yakin perasaanku akan disambut baik olehmu mengingat bagaimana cara kamu membalas semua pesan-pesan konyolku, bagaimana caramu menyapaku saat tak sengaja bertemu di tempat yang bahkan tak bisa dibilang romantis.
    Namun, seperti ada yang mengganjal, ah aku ketakutan sebenarnya, takut kalau kamu sudah bersama perempuan beruntung di luar sana yang berhasil memiliki kamu. Jadi, aku mengiyakan saja ketika ada yang berbaik hati mau menjadi mata dan telingaku demi mengorek secuil kehidupan pribadi kamu yang bahkan tak kuketahui.
    Dan… kamu ternyata masih sendiri, membuat bibirku tertarik ke atas saat mendengarnya. Namun di detik berikutnya senyumku seperti asap rokok yang tertiup angin, menghilang begitu saja saat mendengar pengakuan tanpa hati sepanjang masa yang katanya meluncur tanpa ragu dari bibir kamu.
    Dia bertanya pada kamu. “Masih sendiri?”
    Saat itu aku membayangkan kamu menjawab dengan lempengnya. “Ya.”
    Dia, mungkin saat itu terlalu penasaran sehingga bertanya, “Tertarik nggak sama dia?—menyebutkan namaku..”
    Dan, kamu tahu apa yang aku dengar? Aku mendengar kamu menjawab, “Nggak,” tanpa ragu.
    Jadi, apa arti semua keramahan kamu padaku sejauh ini jika yang kudengar bahkan kamu selalu bersikap dingin pada perempuan, namun memperlakukanku seperti itu? Ah… aku tak tahu, tak pernah ingin tahu dengan membiarkan diriku berjuang sendiri mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang kamu patahkan, namun rasa sakit ini mengingatkanku kalau kamu memang ada, dan akan selalu ada entah dalam pikiranku, bahkan hatiku yang sudah tak berbentuk.
    Untuk kamu yang sudah mematahkan hatiku tanpa ragu, kamu… aku… dan… tak akan pernah ada kita.

    -AKU-

Share    

Cancel
Show Comment ( 2 )  

Kristina Yovita commented
  • ... dan tak akan pernah ada kita... hiks...


Cancel



MONITA DEA ETIKA SARI commented
  • apapun rasa tak harus selalu menjadi kita,
    seperti pertemuan yang tidak selalu menjadi kebersamaan


Cancel